Arsip untuk Oktober, 2008
PARTAI PEDULI RAKYAT NASIONAL
Posted in Tak Berkategori on Oktober 4, 2008 by pprnPPRN: Mereka Takut Hadapi Partai Baru
Posted in Tak Berkategori on Oktober 4, 2008 by pprn
<i>Wacana Koalisi PDIP Dan Golkar Dicibir</i>
Wacana koalisi Partai Golkar dan PDIP ditanggapi dingin parpol baru. Partai Peduli Rakyat Nasional menilai, digulirkannya wacana koalisi menunjukkan adanya ketakutan partai lama atas kehadiran parpol baru.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Amelia A Yani di sela-sela temu kader dan konsolidasi di Hotel Ningrat, Bangkalan, Madura, baru-baru ini.
“Usulan untuk koalisi antara Golkar dan PDIP adalah bentuk ketakutan. Selain itu, semakin mempertegas ada indikasi kelemahan di antara partai lama, sehingga harus saling menutupi,” kata putri pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani ini.
Seperti diketahui, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) DPP PDIP Taufik Kiemas mengajak Partai Golkar untuk berkoalisi sebelum pemilu legislatif digelar. Ajakan suami Megawati tersebut disampaikan di acara silaturahmi nasional (Silatnas) Dewan Penasehat Partai Golkar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta (Senin, 25/08/08).
Selain itu, Amelia melihat wacana koalisi yang akan dibangun belum kongkrit sehingga bisa merugikan kedua belah pihak. “Apa yang akan dibangun saja belum jelas,” kata Amelia yang didampingi Ketua DPP PPRN Anton Sihotang dan Ketua DPW Jawa Timur Edy Soewarny.
<b>Gandeng Komunitas Pelaut</b>
Dalam kunjungannya ke Madura, Amelia menyatakan tidak gentar untuk bersaing dengan parpol lain seperti parpol berbasis Islam. Soalnya, di daerah penghasil garam tersebut, PPRN akan menggandeng para pelaut yang tergabung dalam Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI).
“Kami sudah bekerjasama dengan KPI untuk membesarkan partai baik yang masih aktif maupun pensiun, termasuk para keluarganya. Nah, pelaut-pelaut kita banyak yang berasal dari Madura,” terangnya.
Hal tersebut diamini oleh Ketua DPP PPRN bidang Departemen Luar Negeri Tony Pangaribuan. Menurutnya, para pengurus KPI berjumlah sekitar 85 ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Visi dan misi PPRN salah satunya memperjuangkan nasib para pelaut dan KPI sangat pas untuk bekerjasama dengan PPRN guna mensejahterakan para pelaut,” kata Tony yang juga Ketua Unit KPI.
Tony yang juga caleg PPRN untuk daerah pemilihan (dapil) Madura optimis akan meraup banyak suara di pemilu mendatang karena warga Madura banyak yang menjadi pelaut.
Ketua DPW PPRN Jawa Timur Edy Soewarny optimistis PPRN bisa meraih suara signifikan di basis NU tersebut. Apalagi, beberapa caleg yang dipasang adalah para kiai NU pimpinan pondok pesantren.
“PPRN merupakan partai terbuka. Caleg-caleg kami banyak dari kalangan kiai dan NU. Salah satunya KH Saleh Sayuti, pimpinan Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Sampang,” ungkap Edy Soewarny di hadapan para pengurus DPW seluruh Jatim.
<b>Buka Bersama Di TMP Kalibata</b>
Secara terpisah, mengisi kegiatan di bulan Ramadahan, PPRN pun menggelar acara buka puasa bersama dan memberikan bantuan sembako kepada para pegawai Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.
Menurut Amelia, acara tersebut selain untuk mengenang ayahnya Jenderal Ahmad Yani sekaligus juga menyambung silaturahmi kepada para penjaga TMP Kalibata.
“Selama ini para pegawai inilah yang secara rutin merawat dan memelihara kuburan para pahlawan kita termasuk makam ayah saya,” kata Amelia yang didampingi putra-putri Jenderal Ahmad Yani yang lain dan para pengurus DPP PPRN.
Setelah berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan salat tarawih bersama yang digelar di salah satu pelataran area TMP Kalibata. Lebih jauh Amelia Yani mengatakan, kegiatan yang digelar di TMP Kalibata tersebut tak lain untuk menyampaikan rasa terima kasih dan peduli keluarga besar Jenderal Ahmad Yani kepada seluruh pengurus makam TMP Kalibata.
“Hanya ini yang bisa kami berikan, baru bisa mewakili dengan sembako. Kita bagikan sembako ini kepada 120 pengurus makam yang terdiri dari tukang gali dan satpam,” tutur Amelia.
Dalam kesempatan itu, Amelia juga sedikit bercerita mengenai pesan-pesan terakhir ayahnya sebelum meninggal akibat rencana kudeta PKI 30 September.
“Pesan terakhir pada 31 September 1965, bapak mengatakan bahwa seluruh keluarga akan ke Istana diwarnai arak-arakan dan massa yang banyak. Tepat tanggal 5 Oktober 1965, perkataan bapak terwujud. Ternyata, maksud Istana itu adalah makam. Ya, di sini ini bapak akhirnya diarak,” kenang Amelia.




